Jiwa yang Hilang dari Sebuah Kata, Ketika Peradaban Hanya Jadi Tembok, Bukan Hati

Coba kita renungi sejenak. Kata “peradaban”. Rasanya begitu megah, menguar janji tentang kota, menara, dan pencapaian manusia. Tapi coba kita urai pelan-pelan. Secara sintaksis, ia hanyalah kata dasar “adab” yang diberi rumah: “per-” dan “-an”. “Adab”—hanya satu suku kata itu—adalah jiwa…
