23 April 2026: Menjaga Arus Pengetahuan dari Lembaran Kertas hingga Ruang Digital – Memaknai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia

[Ruangkosong.net] Setiap tanggal 23 April, dunia merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia atau World Book and Copyright Day. Tahun 2026, peringatan ini hadir dengan makna yang sangat relevan di tengah transformasi digital yang mengubah cara kita mengakses dan mengonsumsi informasi. Dengan tema global “The Stream of Knowledge – From the Book to the Digital Space” atau “Arus Pengetahuan – Dari Lembaran Buku ke Ruang Digital”, peringatan tahun ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana pengetahuan terus mengalir melintasi zaman dan medium, serta bagaimana kita harus melindungi hak cipta di era di mana informasi dapat disalin dan disebarluaskan dalam sekejap. Di usianya yang ke-31, Hari Buku Sedunia 2026 menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa membaca adalah hak fundamental setiap manusia, dan melindungi karya intelektual adalah kewajiban kolektif.

Sejarah Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia: Dari Legenda hingga Resolusi UNESCO

Hari Buku Sedunia memiliki akar sejarah yang unik—setengah legenda, setengah resolusi formal. Tanggal 23 April dipilih tidak secara kebetulan. Ia adalah perpaduan antara tradisi kuno dan penghormatan kepada para raksasa sastra dunia.

Asal-usulnya bermula dari Legenda Santo Georgius (Saint George) yang berkembang di Spanyol, khususnya di daerah Catalonia. Alkisah, seorang ksatria bernama Georgius menyelamatkan seorang putri dari cengkeraman naga jahat. Setelah naga itu dikalahkan, darahnya yang tertumpah di tanah menyembur dan tumbuh menjadi semak mawar merah yang bermekaran indah. Sang ksatria memetik bunga mawar itu dan memberikannya kepada sang putri. Sebagai balasannya, sang putri memberikan hadiah berupa sebuah buku—melambangkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan.

Tradisi inilah yang kemudian melahirkan kebiasaan unik di Catalonia setiap tanggal 23 April: para pria memberikan mawar kepada wanita yang mereka cintai, sementara para wanita memberikan buku sebagai balasannya. “Beri aku bunga, kuberi buku” —begitulah kira-kira semangatnya. Tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad ini secara tidak langsung mengilhami UNESCO untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Buku Sedunia.

Namun, alasan di balik pemilihan 23 April tidak hanya romantis, tetapi juga sangat intelektual. Tanggal ini adalah hari wafatnya dua sastrawan terbesar dunia: William Shakespeare dari Inggris dan Miguel de Cervantes dari Spanyol. Keduanya meninggal pada tanggal yang sama—23 April 1616—meskipun sebenarnya dalam kalender yang berbeda (Spanyol menggunakan Kalender Gregorian, sementara Inggris masih menggunakan Kalender Julian). Selain itu, tanggal ini juga menjadi hari lahir atau kematian sejumlah penulis besar lainnya, seperti Inca Garcilaso de la Vega, Maurice Druon, dan Vladimir Nabokov.

Secara formal, gagasan untuk mendirikan hari peringatan buku dan hak cipta pertama kali dicetuskan oleh International Publishers Association pada tahun 1996 di Barcelona. Spanyol kemudian mengajukan proposal ini kepada UNESCO. Pada tahun yang sama, dalam Konferensi Umum UNESCO ke-28 di Paris, diadopsilah resolusi yang menetapkan tanggal 23 April sebagai “World Book and Copyright Day” atau Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia.

Tujuan dari peringatan ini dinyatakan dengan indah dalam “World Book and Copyright Day Proclamation” : “Kami ingin mengundang semua orang, di mana pun mereka berada, untuk membuka buku, mengambil pena, dan merayakan kreativitas tanpa batas yang telah membentuk sejarah manusia.” Tujuan mulia ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diadopsi oleh lebih dari 100 negara anggota UNESCO.

Tema Hari Buku Sedunia 2026: The Stream of Knowledge – From the Book to the Digital Space

Untuk tahun 2026, tema global yang diusung adalah “The Stream of Knowledge – From the Book to the Digital Space” atau “Arus Pengetahuan – Dari Lembaran Buku ke Ruang Digital”. Tema ini dipilih untuk merespons perubahan fundamental dalam cara manusia mengakses, mengonsumsi, dan menyebarkan pengetahuan.

Bayangkan sebuah sungai. Ia mengalir dari hulu ke hilir, membawa air yang sama tetapi melewati lanskap yang berbeda. Di era Gutenberg, sungai pengetahuan mengalir melalui lembaran-lembaran kertas yang dijilid menjadi buku. Di era digital saat ini, sungai yang sama terus mengalir—tetapi kini ia merembes ke dalam layar ponsel, tablet, dan komputer. Airnya tetap sama: ilmu pengetahuan, cerita, gagasan, dan imajinasi. Namun, salurannya telah berubah.

Tema ini menyoroti bahwa transformasi digital bukanlah akhir dari buku, melainkan perluasan dari ekosistem pengetahuan itu sendiri. Direktur Perpustakaan Nasional Vietnam, Nguyen Xuan Dung, dalam sambutannya pada perayaan Hari Buku dan Budaya Membaca Vietnam ke-5, menyatakan bahwa tema ini adalah “aliran berkelanjutan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan; antara buku dan ruang digital; antara pengetahuan individu dan pengetahuan komunitas.”

Lebih lanjut, tema ini juga menyoroti tantangan baru di era digital. Jika di masa lalu, tantangan utama adalah akses fisik terhadap buku, kini tantangannya adalah literasi digital, keaslian informasi, dan perlindungan hak cipta. Di dunia di mana konten dapat disalin, dimodifikasi, dan disebarluaskan tanpa batas, bagaimana kita memastikan bahwa para pencipta karya tetap mendapatkan hak dan penghargaan yang layak?

Logo Hari Buku Sedunia 2026

Hingga saat ini, UNESCO belum merilis logo resmi global untuk peringatan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2026. Namun, berdasarkan tradisi dan tema yang diusung, logo biasanya menampilkan elemen-elemen visual yang merepresentasikan buku dan dunia digital secara bersamaan.

Secara umum, logo Hari Buku Sedunia menampilkan buku terbuka sebagai simbol universal dari pengetahuan dan pembelajaran. Di beberapa edisi, buku terbuka ini dikombinasikan dengan elemen-elemen modern seperti gelombang digital, piksel, atau ikon jaringan untuk menggambarkan bahwa pengetahuan telah merambah ke ranah siber.

Untuk peringatan tahun 2026 dengan tema “Arus Pengetahuan”, logo kemungkinan akan menampilkan aliran sungai yang berkelok-kelok, yang di bagian hulunya terbuat dari tumpukan buku klasik, dan di bagian hilirnya berubah menjadi untaian kode biner atau gelombang Wi-Fi. Warna-warna yang mendominasi adalah biru tua (melambangkan kedalaman pengetahuan), hijau toska (melambangkan pertumbuhan dan aksesibilitas), serta kuning keemasan (melambangkan pencerahan dan nilai luhur dari karya intelektual).

Masyarakat dapat mengikuti perkembangan informasi logo resmi melalui situs web UNESCO atau kanal media sosial @UNESCO pada minggu-minggu menjelang 23 April 2026. Namun demikian, berbagai institusi dan perpustakaan di seluruh dunia telah mulai merilis materi visual mereka sendiri yang terinspirasi oleh tema tersebut, seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional Vietnam dan Perpustakaan Umum Seoul.

Ibu Kota Buku Dunia 2026: Rabat, Maroko

Salah satu tradisi paling bergengsi dalam rangkaian perayaan Hari Buku Sedunia adalah penunjukan Ibu Kota Buku Dunia (World Book Capital) oleh UNESCO. Setiap tahun, sebuah kota dipilih berdasarkan komitmennya yang luar biasa dalam mempromosikan buku dan literasi.

Untuk tahun 2026, gelar tersebut disandang oleh Rabat, ibu kota Maroko. Kota ini menggantikan Rio de Janeiro (Brasil) yang menjadi Ibu Kota Buku Dunia 2025. UNESCO memilih Rabat berdasarkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ibu Kota Buku Dunia, yang mengakui komitmen Rabat terhadap pengembangan literasi, pemberdayaan perempuan dan kaum muda melalui membaca, serta pemberantasan buta huruf, khususnya di kalangan masyarakat kurang mampu.

Komisaris Umum program “Rabat, Ibu Kota Buku Dunia”, Latifa Mouftakir, mengumumkan bahwa kota ini akan meluncurkan program budaya tahunan yang ambisius dan unik, yang menempatkan manusia di jantung lanskap budaya dan menjadikan interaksi dengan produk budaya sebagai katalis untuk pembangunan manusia. Rangkaian program ini mencakup 342 acara yang tersebar dalam 12 tema strategis, mulai dari acara membaca terbuka, kafe sastra, kampanye kesadaran publik tentang pentingnya membaca di ruang publik, pameran, perpustakaan keliling, residensi sastra, hingga konferensi untuk profesional buku.

Yang menarik dari program Rabat tahun ini adalah pendekatannya yang “keluar dari perpustakaan”. Buku-buku tidak hanya berada di rak perpustakaan atau stan pameran. Mereka dibawa ke rumah sakit, panti rehabilitasi, panti asuhan, pusat pemuda, dan bahkan ke halte bus serta taman kota. Ini adalah upaya untuk menjangkau mereka yang mungkin tidak memiliki akses mudah ke perpustakaan konvensional.

Puncak dari perayaan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia adalah penyelenggaraan Pameran Buku dan Penerbitan Internasional (SIEL) ke-31 yang berlangsung pada 1-10 Mei 2026. Pameran ini diikuti oleh 890 peserta pameran dari 60 negara, menampilkan lebih dari 130.000 judul buku. Prancis menjadi tamu kehormatan tahun ini. Pameran ini juga akan memberikan penghormatan khusus kepada Ibnu Battuta, penjelajah dan cendekiawan Maroko abad ke-14, dengan fokus khusus pada literatur perjalanan. Lebih dari 204 acara budaya akan digelar, melibatkan sekitar 720 penulis, pemikir, dan kreator.

Tema dan Logo di Tingkat Lokal

Meskipun tema global tahun 2026 adalah “The Stream of Knowledge”, beberapa negara dan institusi menerjemahkannya ke dalam konteks lokal yang lebih spesifik.

Vietnam, misalnya, mengusung tema “The Stream of Knowledge – From the Book to the Digital Space” dalam perayaan Hari Buku dan Budaya Membaca Vietnam ke-5. Perpustakaan Nasional Vietnam menggelar pameran yang terdiri dari lima bagian: “Sumber Arus”, “Arus Penyebaran”, “Arus Kreatif”, “Arus Digital”, serta “Arus Koneksi dan Pengalaman”. Melalui pendekatan berbasis “arus” ini, pameran memperkenalkan publikasi dan sumber daya yang khas, menggambarkan perjalanan perkembangan buku dan pengetahuan.

Hong Kong, melalui Hong Kong Public Libraries, menggelar “4.23 World Book Day Creative Competition in 2026” dengan tema “Blissful Moments Between Pages” atau “Momen Bahagia di Antara Halaman Buku”. Kompetisi ini mendorong anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan pengalaman membaca mereka melalui berbagai bentuk kreatif, mulai dari esai, ilustrasi, hingga desain sampul buku.

Korea Selatan, melalui Seoul Metropolitan Government, meluncurkan “Seoul Outdoor Library” yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia 2026. Perpustakaan terbuka di Gwanghwamun Square, Cheonggyecheon Stream, dan Seoul Plaza ini tidak hanya menyediakan akses membaca gratis di ruang publik, tetapi juga menghadirkan program-program global seperti “Travel Library” yang melibatkan partisipasi 14 negara, termasuk Indonesia. Tema khusus untuk pekan pembukaan adalah “What It Means to Read in the Age of AI” (Apa Artinya Membaca di Era Kecerdasan Buatan).

Di Indonesia, meskipun tidak ada tema nasional yang diumumkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berbagai komunitas literasi dan perpustakaan daerah menggelar kegiatan dengan semangat yang sama. Beberapa di antaranya mengusung tagar “Membaca untuk Indonesia Maju” atau “Literasi Digital, Identitas Bangsa”. Peringatan Hari Buku Sedunia di Indonesia sering dirangkaikan dengan Bulan Buku Nasional yang jatuh pada bulan Mei, sehingga rangkaian kegiatannya berlangsung cukup panjang.

Makna di Balik Tema: Menjaga Hak Cipta di Era Digital

Tema “The Stream of Knowledge” tidak hanya berbicara tentang akses, tetapi juga tentang integritas dan perlindungan. Di era di mana konten digital dapat digandakan tanpa batas dan disebarluaskan dalam hitungan detik, perlindungan hak cipta menjadi tantangan yang semakin kompleks.

Setiap kali Anda mengunduh ebook bajakan, menyalin artikel tanpa mencantumkan sumber, atau menggunakan foto orang lain tanpa izin untuk konten komersial, Anda telah merusak aliran pengetahuan yang sehat. Pencipta karya—penulis, jurnalis, fotografer, musisi, ilmuwan—tidak akan termotivasi untuk terus berkarya jika karya mereka dicuri begitu saja.

Sebaliknya, ketika kita menghormati hak cipta, kita sedang menyirami sungai pengetahuan agar tetap mengalir. Kita memastikan bahwa para pencipta karya mendapatkan imbalan yang layak, sehingga mereka dapat terus berkarya dan memperkaya peradaban manusia.

Seperti yang dinyatakan dalam resolusi UNESCO, peringatan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia bertujuan untuk “mendorong semua orang, di mana pun mereka berada, untuk melindungi kekayaan intelektual sebagai fondasi dari masyarakat yang kreatif dan inovatif.”

Cara Berpartisipasi dalam Hari Buku Sedunia 2026

Ada banyak cara untuk ikut merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia pada 23 April 2026 nanti.

Pertama, bacalah sebuah buku. Ini adalah cara paling sederhana namun paling bermakna. Luangkan waktu setidaknya satu jam untuk membaca buku favorit Anda, atau mulai membaca buku baru yang sudah lama tertunda di rak. Jika Anda tidak memiliki buku, kunjungi perpustakaan terdekat atau unduh ebook legal dari platform berlangganan.

Kedua, dukung penulis dan penerbit lokal. Beli buku dari penulis Indonesia, kunjungi toko buku independen di kota Anda, atau berikan ulasan positif untuk buku-buku yang Anda sukai. Dengan cara ini, Anda ikut menjaga ekosistem penerbitan lokal tetap hidup.

Ketiga, bagikan kutipan buku favorit Anda di media sosial. Gunakan tagar seperti #WorldBookDay, #HariBukuSedunia, #WorldBookCapital2026, atau #RabatReads. Tagar ini akan menghubungkan Anda dengan jutaan pencinta buku di seluruh dunia.

Keempat, jika Anda memiliki platform atau pengaruh, bacakan cerita untuk anak-anak. Di tengah gempuran gawai dan media sosial, membaca nyaring untuk anak-anak adalah investasi jangka panjang bagi masa depan literasi bangsa. Ajak anak-anak untuk mencintai buku sejak dini.

Kelima, hormati hak cipta. Pastikan bahwa Anda tidak mengunduh atau menyebarluaskan konten bajakan. Jika Anda menggunakan karya orang lain untuk keperluan tertentu, pastikan Anda mencantumkan sumbernya dengan benar. Ini adalah bentuk penghormatan paling konkret terhadap para pencipta karya.

Keenam, ikuti acara Hari Buku Sedunia di kota Anda. Banyak perpustakaan, toko buku, dan komunitas literasi yang menggelar acara khusus, seperti diskusi buku, bedah karya, lokakarya menulis, atau pameran. Jangan lewatkan kesempatan untuk bertemu dengan sesama pencinta buku.

Ketujuh, jika Anda seorang pendidik, jadikan pekan ini sebagai “Pekan Membaca” di sekolah. Adakan lomba resensi buku, lomba desain sampul, pojok baca, atau kunjungan ke perpustakaan. Tanamkan bahwa membaca bukanlah beban, tetapi petualangan yang menyenangkan.

Sungai Pengetahuan Tak Pernah Berhenti Mengalir

Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2026 dengan tema “The Stream of Knowledge – From the Book to the Digital Space” mengingatkan kita bahwa pengetahuan adalah sungai yang mengalir tanpa henti. Ia mengalir dari generasi ke generasi, dari budaya ke budaya, dari medium ke medium.

Apakah Anda membaca buku dari lembaran kertas yang berdesir saat dibalik, ataukah Anda menyelami ebook di layar yang mulus, esensinya tetap sama: Anda sedang berkenalan dengan ide-ide baru, Anda sedang berjalan-jalan di dunia orang lain, Anda sedang memperkaya jiwa Anda.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay ketika mengumumkan Rabat sebagai Ibu Kota Buku Dunia 2026, “Buku adalah jembatan antar generasi dan lintas budaya. Mereka adalah alat paling kuat untuk membangun perdamaian di dalam pikiran manusia.”

Selamat Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2026. Mari kita jaga agar sungai pengetahuan ini tetap mengalir jernih—untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk generasi yang akan datang.

ruangkosong
ruangkosong
Articles: 158

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *