24 Maret 1946, Ketika Bandung Memilih Membakar Diri Demi Kemerdekaan

[Ruangkosong.net] Setiap tanggal 24 Maret, bangsa Indonesia memperingati salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan: Bandung Lautan Api. Tahun 2026, genap 80 tahun sudah peristiwa monumental itu berlalu, namun semangat yang dikobarkan para pejuang dan rakyat Bandung tetap menyala hingga kini. Mereka memilih membumi-hanguskan kota tercinta daripada menyerahkannya ke tangan musuh.

Latar Belakang: Ketika Bandung Terbelah

Peristiwa Bandung Lautan Api tidak dapat dipisahkan dari situasi Indonesia pasca-proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Meskipun kemerdekaan telah diproklamasikan, kenyataan di lapangan masih jauh dari kata aman. Pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945 bersama dengan NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah Indonesia .

Kedatangan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Brigadir MacDonald ini langsung menciptakan ketegangan. Mereka menuntut agar semua senjata api yang digunakan dalam perang di tangan penduduk, kecuali milik Tentara Keamanan Rakyat (TKR), diserahkan kepada pihak Sekutu . Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan, dan bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari .

Puncak ketegangan terjadi pada malam 21 November 1945, ketika TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang dijadikan markas Inggris . Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata .

Akibatnya, Bandung pun terbelah menjadi dua wilayah: Bandung Utara dikuasai Sekutu dan Belanda, sementara Bandung Selatan tetap menjadi wilayah kekuasaan Republik Indonesia .

Ultimatum Akhir dan Keputusan Heroik

Pada 23 Maret 1946, Sekutu kembali melontarkan ultimatum yang lebih keras. Kali ini mereka menuntut agar pasukan Indonesia dan seluruh penduduk meninggalkan Bandung Selatan paling lambat pukul 24.00, 24 Maret 1946, dengan jarak evakuasi sejauh 10 hingga 11 kilometer dari pusat kota . Markas Besar TRI di Yogyakarta memerintahkan agar Bandung dikosongkan, sementara Pemerintah RI di Jakarta menginstruksikan sebaliknya .

Dalam situasi yang dilematis ini, para pejuang dan rakyat Bandung mengambil keputusan yang luar biasa. Melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan Republik Indonesia pada tanggal 23 Maret 1946, diputuskan untuk melakukan operasi “bumi hangus” . Kolonel Abdoel Haris Nasution selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung .

Keputusan ini diambil dengan alasan yang sangat prinsipil: para pejuang dan rakyat Bandung tidak rela melihat kota kebanggaan mereka dimanfaatkan oleh Sekutu dan NICA sebagai markas strategis militer . Lebih baik membumi-hanguskan Bandung daripada menyerahkannya ke tangan penjajah.

Bandung Membara: Malam yang Menjadi Sejarah

Bandung Membara

Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mulai mengalir panjang meninggalkan kota. Sekitar 200.000 orang mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka, berjalan kaki menuju pegunungan di selatan Bandung . Meskipun kesepakatan awal menetapkan pembakaran dilakukan pada tengah malam memasuki tanggal 24 Maret, kenyataan di lapangan berbeda .

Pada pukul 21.00 malam itu, api sudah mulai berkobar. Gedung pertama yang diledakkan adalah Bank Rakyat. Disusul dengan pembakaran bangunan-bangunan penting di Banceuy, Cicadas, Braga, dan Tegalega . Anggota TRI membakar sendiri asrama-asrama mereka. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik padam .

Api berkobar di sepanjang jalan kereta api dari Ujung Berung hingga Cimahi, menciptakan pemandangan mengerikan sekaligus heroik: lautan api sepanjang 12 kilometer dari timur ke barat Bandung . Langit malam berwarna merah menyala, mengobarkan semangat juang setiap pejuang yang menyaksikannya. Dalam waktu sekitar tujuh jam, sebagian besar wilayah selatan Bandung telah menjadi abu .

Pertempuran di Dayeuhkolot: Pengorbanan Dua Pahlawan

Di tengah kepungan api yang membakar kota, pertempuran sengit terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung. Di daerah ini terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia), Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan, menjalankan misi heroik untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut .

Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang itu dengan dinamit. Ledakan besar menghancurkan gudang amunisi, tetapi kedua milisi tersebut gugur di tempat, terbakar bersama gudang yang mereka hancurkan . Pengorbanan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah heroik Bandung Lautan Api, mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak pernah datang tanpa harga yang mahal.

Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan, pada pukul 21.00 malam itu mereka ikut dalam rombongan yang mengevakuasi diri . Sejak saat itu, kurang lebih pukul 12 malam, Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Namun api masih terus membubung membakar kota, dan Bandung pun benar-benar menjadi lautan api .

Asal-usul Istilah “Bandung Lautan Api”

Istilah “Bandung Lautan Api” menjadi terkenal setelah peristiwa pembumi-hangusan tersebut. Menurut pengakuan Jenderal A.H. Nasution, istilah ini pertama kali muncul dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung, dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika). Rukana mengusulkan, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api” .

Namun, versi lain menyebutkan bahwa istilah ini muncul dari seorang wartawan muda bernama Atje Bastaman. Saat peristiwa pembakaran berlangsung, Atje Bastaman menyaksikan pemandangan Bandung yang memerah dari puncak Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Setibanya di Tasikmalaya, ia menulis berita dengan judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Karena keterbatasan ruang, judul itu diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api” .

Inspirasi Lagu “Halo-Halo Bandung”

Peristiwa Bandung Lautan Api meninggalkan duka yang mendalam sekaligus semangat yang membara bagi para pejuang Indonesia. Rasa haru dan tekad untuk kembali merebut kota tercinta ini menginspirasi Ismail Marzuki, seorang komponis besar Indonesia, untuk mengubah dua baris terakhir lagu “Halo-Halo Bandung” menjadi lebih patriotis .

Lirik “Bandung lautan api” yang kini kita kenal menjadi pengingat abadi akan emosi yang dialami para pejuang saat itu, menunggu waktu untuk kembali ke kota yang telah menjadi lautan api . Lagu ini kemudian menjadi salah satu lagu perjuangan paling dikenal, membakar semangat nasionalisme dari generasi ke generasi.

Monumen Bandung Lautan Api: Simbol Abadi Perjuangan

Empat puluh lima tahun setelah peristiwa heroik itu, pada tahun 1981, Pemerintah Kota Bandung membangun Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegallega . Monumen setinggi 45 meter ini didesain oleh seniman Sunaryo Soetono. Di bagian atas bangunan, terdapat sembilan bidang yang melambangkan api yang menyala-nyala sebagai simbol semangat perjuangan warga Bandung yang tak pernah padam .

Monumen ini tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tetapi juga pusat peringatan setiap tanggal 23-24 Maret. Warga Bandung dan masyarakat luas dapat mengenang kembali pengorbanan para pahlawan yang rela membumi-hanguskan kota demi mempertahankan kemerdekaan. Hingga kini, monumen tersebut buka 24 jam setiap hari, menjadi saksi bisu semangat patriotisme yang terus hidup .

Makna Peristiwa Bandung Lautan Api bagi Masa Kini

Peristiwa Bandung Lautan Api mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang memperjuangkan hak, tetapi juga tentang keberanian untuk berkorban. Para pejuang dan rakyat Bandung menunjukkan bahwa terkadang, mempertahankan harga diri dan prinsip lebih penting daripada mempertahankan harta benda.

Dalam konteks kekinian, semangat Bandung Lautan Api dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk perjuangan yang relevan dengan tantangan zaman. Bukan dengan senjata dan api, tetapi dengan semangat pantang menyerah dalam membangun bangsa, integritas dalam menjalankan tugas, dan kesediaan berkorban untuk kepentingan bersama.

Peringatan Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret menjadi momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan para pendahulu. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, semangat persatuan dan rela berkorban seperti yang ditunjukkan warga Bandung pada 1946 tetap relevan untuk dihidupkan.

Bandung Lautan Api bukan sekadar catatan sejarah tentang kota yang terbakar. Ia adalah bukti bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini diperoleh melalui pengorbanan yang luar biasa. Ia adalah warisan semangat yang harus terus kita jaga. Seperti nyala api yang tak pernah padam, semangat perjuangan para pahlawan Bandung harus terus menyala dalam dada setiap generasi penerus bangsa.

ruangkosong
ruangkosong
Articles: 158

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *