[ruangkosong.net] Pagi Minggu, 28 Desember 2025, Jalan Tamansari tidak seperti biasanya. Antrean manusia mengular sejak matahari belum sepenuhnya naik, mengarah ke satu tempat yang sehari sebelumnya diumumkan tutup: Kebun Binatang Bandung. Ironisnya, justru pada hari ia dinyatakan tidak menerima tamu, Bandung Zoo kembali menjadi tujuan utama warga kota.
Bandung Zoo, atau Kebun Binatang Bandung, memang bukan sekadar lokasi wisata. Ia adalah ruang nostalgia, ruang hijau, sekaligus ruang harapan. Ketika pengumuman penutupan disebarkan lewat media sosial, ribuan orang tetap datang. Seolah ada rindu kolektif yang tak bisa dibatalkan oleh satu unggahan digital.
Ketika Penutupan Tak Menghentikan Langkah
Sejak pukul 07.00 WIB, warga telah memenuhi area depan gerbang. Anak-anak, orang tua, hingga kendaraan yang parkir tak beraturan menciptakan situasi yang sulit dikendalikan. Petugas keamanan pun berada di posisi serba salah—aturan berkata tutup, tapi realitas berkata sebaliknya.
Pengelola Bandung Zoo akhirnya memilih jalan tengah. Demi menghindari gesekan sosial dan kemacetan yang lebih parah, kebun binatang dibuka terbatas. Jam kunjungan dipangkas drastis, hanya dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Tidak ada tiket masuk. Yang ada hanyalah kesadaran.
Langkah ini memperlihatkan satu hal penting: ruang publik tak selalu bisa dikelola dengan logika administratif semata. Ada emosi warga, ada kebutuhan rekreasi, dan ada relasi panjang antara kota dan ruang hijaunya.
Gratis Masuk, Donasi Sebagai Bentuk Kepedulian
Masuk ke Bandung Zoo hari itu tak memerlukan uang di loket. Namun, banyak pengunjung datang dengan tangan penuh. Sayuran, buah-buahan, dan donasi sukarela dimasukkan ke dalam boks pakan satwa yang telah disediakan pengelola.
Donasi menjadi bentuk tiket moral. Tidak ada paksaan, tak ada nominal baku. Ada yang memberi Rp5.000, ada pula yang menyumbang lebih. Sebagian bahkan membawa hasil panen sendiri. Di sini, relasi manusia dan satwa terasa lebih setara—bukan transaksi, melainkan empati.
Bagi pengunjung seperti Tika, kehadiran di Kebun Binatang Bandung bukan sekadar wisata gratis. Ia datang bersama keluarga, didorong rasa ingin berbagi. Baginya, memberi makan satwa adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga kota.
Bandung Zoo dan Masa Depan Ruang Hijau Kota
Di tengah berbagai spekulasi, Pemerintah Kota Bandung menegaskan satu hal: Bandung Zoo akan tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) publik. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa belum ada penarikan tiket masuk karena persoalan manajemen masih dalam tahap pembenahan.
Pakan satwa kini dijamin oleh Kementerian Kehutanan, sementara kesejahteraan karyawan sedang didata untuk ditanggung melalui anggaran pemerintah daerah. Fokus utama, menurut Farhan, adalah menjaga fungsi Kebun Binatang Bandung sebagai ruang hijau yang bisa diakses publik.
Bandung Zoo hari ini mungkin berada dalam masa transisi. Namun antrean panjang di hari penutupan justru menjadi pengingat paling jujur: ruang hijau bukan sekadar fasilitas kota, melainkan kebutuhan bersama. Dan ketika ruang itu sempat kosong, warga datang untuk mengisinya—dengan rindu, kepedulian, dan harapan.





