Cabai Ungu, Warna Kecil yang Mengantar Shafiq Jadi Lulusan Terbaik IPB

[ruangkosong.net] Tak semua kisah lulusan terbaik dimulai dari ambisi mengejar IPK sempurna. Ada yang justru berawal dari rasa penasaran sederhana—seperti warna ungu pada cabai. Bagi Shafiq Nayottama, cabai ungu bukan sekadar varietas tanaman, melainkan penanda arah hidup yang mengantarkannya menjadi lulusan terbaik IPB University.

Shafiq resmi diwisuda pada 10 Desember 2025 dengan IPK 3,90 dan predikat cumlaude. Prestasi ini bukan lahir dari hafalan semata, melainkan dari ketekunan meneliti, merawat, dan mencintai proses riset pertanian sejak bangku kuliah.

Dari Layar Presentasi SMA ke Kampus IPB

Ketertarikan Shafiq pada cabai ungu bermula sejak ia duduk di bangku SMA. Saat itu, ia melihat presentasi dalam kegiatan IPB Goes to School yang menampilkan varietas cabai ungu hasil riset Prof Syukur, peneliti IPB University. Warna ungu kecil di layar itu, tanpa disadari, menancap kuat di benaknya.

Pengalaman tersebut mendorong Shafiq memilih Program Studi Agronomi dan Hortikultura IPB University. Ia merasa keputusan itu menjadi salah satu pilihan paling tepat dalam hidupnya. Dari sekadar rasa kagum, tumbuh tekad untuk memahami dunia tanaman secara lebih mendalam.

Takdir seolah berpihak. Shafiq kemudian diterima sebagai mahasiswa IPB melalui jalur SNMPTN—kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Lebih dari itu, ia berkesempatan menjadi mahasiswa bimbingan Prof Syukur, sosok yang karyanya dahulu membuatnya jatuh cinta pada dunia agronomi.

Menekuni Riset Cabai Ungu, Menumbuhkan Ilmu dan Kesabaran

Selama kuliah, Shafiq memilih jalur yang tidak selalu glamor: riset lapangan. Ia menekuni penelitian tentang evaluasi keragaman dan daya hasil cabai keriting, baik hibrida maupun non-hibrida. Penelitian ini menuntut ketelitian, kesabaran, dan komitmen jangka panjang.

Baginya, riset bukan sekadar kewajiban akademik. Setiap tahap—mulai dari penyilangan tetua, penyortiran benih, penyemaian, pindah tanam, hingga panen berulang—memberi kepuasan tersendiri. Proses panjang itu justru menjadi ruang belajar paling bermakna.

Di tengah padatnya jadwal kuliah, melihat tanaman tumbuh sehat menjadi penawar lelah. Ada kebahagiaan sederhana saat menyadari bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di kertas, tetapi hidup dan tumbuh di lahan nyata.

Belajar di Luar Kampus, Memahami Dunia Petani

Tak hanya berkutat di kampus, Shafiq juga memperluas pengalaman melalui program pertukaran pelajar ke Bengkulu dan Magang Merdeka di Edufarmers International. Dari sana, ia melihat langsung dinamika pertanian di lapangan.

Berinteraksi dengan petani memberi perspektif baru. Diskusi, pendampingan, dan perubahan nyata di lapangan membuat Shafiq semakin yakin bahwa bidang agronomi dan hortikultura bukan sekadar disiplin ilmu, melainkan jalan pengabdian.

Pengalaman tersebut memperkaya cara pandangnya tentang pertanian berkelanjutan. Ia belajar bahwa riset yang baik harus berpihak pada kebutuhan petani dan mampu menjawab tantangan nyata di lapangan.

Lulusan Terbaik IPB dari Proses yang Bertumbuh

Predikat lulusan terbaik IPB yang diraih Shafiq bukan hasil instan. Ia tumbuh bersama tanaman yang dirawatnya, belajar dari kegagalan riset, dan menemukan makna dalam proses panjang yang sering luput dari sorotan.

Kisah Shafiq Nayottama menjadi pengingat bahwa prestasi akademik tak selalu lahir dari ambisi besar, tetapi bisa tumbuh dari rasa ingin tahu yang dirawat dengan konsisten. Dari cabai ungu yang sederhana, lahir seorang lulusan terbaik IPB University—membuktikan bahwa ilmu, seperti tanaman, butuh waktu untuk berbuah.


ruangkosong
ruangkosong
Articles: 158

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *