Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Ada sebuah hadis yang membuat hati ini bergetar, mengingatkan betapa mahal dan mulianya gelar “mukmin” yang kita sandang. Rasulullah SAW bersabda:
ليس المؤمن بطعان ولا لعان ولا فاحش ولا بذىء – رواه مسلم
“Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Muslim)
Renungkanlah sejenak,
Gelar “mukmin” itu bagai sebuah mutiara yang Allah titipkan dalam relung hati kita. Ia berkilau indah, tetapi sangat mudah terlepas dan ternoda. Sabda Nabi ini adalah peringatan yang sangat lembut sekaligus tegas: jangan sampai mutiara itu terlepas hanya karena lisannya yang tak terjaga.
Bayangkan, dalam satu detik ketika kita mengejek kekurangan saudara kita, atau dalam satu helaan napas ketika sumpah serapah meluncur dari mulut kita, bisa jadi saat itulah cahaya kemukminan itu meredup, terlepas dari dada kita. Lalu, apa jadinya jika sepanjang hari yang kita lakukan adalah mencela, menghina, dan mengutuk? Di manakah letak hati yang seharusnya dipenuhi iman?
Ujian di Zaman yang Ramai Bising

Dan ujian itu kini semakin berat. Di era di mana media sosial menjadi bagian dari nafas kita, setiap jari begitu mudahnya mengetik cacian, menyebar ejekan, atau membagikan hujatan. Status-status kita, share kita, komentar kita—semuanya adalah cermin dari apa yang ada dalam hati.
Lebih parah lagi, ada “fahisyah” modern yang merusak tatanan: yaitu menyebarkan berita hoaks. Setiap kali kita membagikan informasi buruk yang belum jelas kebenarannya, kita bukan hanya menyakiti satu orang, tetapi ikut menggulung dan merobek-robek kain tenun perdamaian dalam masyarakat. Kita telah menjadi bagian dari gelombang yang menggilas kepercayaan dan menebar keresahan.
Dan lihatlah pada skala yang lebih besar. Perilaku “fahisyah” kolektif seperti korupsi, yang menggerogoti uang rakyat dengan cara yang licik, adalah bukti nyata bagaimana “jiwa mukmin” bisa tergerus oleh nafsu duniawi. Betapa banyak bangunan kepercayaan publik yang runtuh karena ulah segelintir orang yang melupakan derajat kemukminannya.
Menjadi Penjaga Mutiara Iman

Lalu, bagaimana kita memelihara mutiara yang begitu berharga ini?
Pertama, jaga lisan seperti kita menjaga nyala api lilin di tengah angin. Pikirkan sebelum berkata. Apakah kata-kata ini akan menyakiti? Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Jika tidak, lebih baik diam. Diam itu emas, dan dalam diam itu, iman kita menemukan tempatnya yang tenang.
Kedua, jaga jempol seperti kita menjaga pedang bermata dua. Sebelum mengetik, men-share, atau mengomentari, tanya pada hati nurani: “Apakah ini akan membawa kebaikan? Atau justru akan menjadi ‘fahisyah’ digital yang merusak?”
Ketiga, jaga hati dengan selalu mengingat bahwa Allah Maha Melihat. Perilaku korupsi dan kejahatan kolektif lahir dari hati yang lupa bahwa ada Pengawas yang tak pernah tidur. Membangun integritas dalam hal kecil adalah cara kita memelihara kemukminan dalam hal besar.
Menjadi mukmin bukanlah tentang kesempurnaan. Kita semua bisa terjatuh. Tetapi, menjadi mukmin sejati adalah tentang kesadaran untuk segera bangkit, membersihkan kembali mutiara itu, dan berusaha lebih hati-hati dalam melangkah dan berkata.
Mari kita pelihara gelar “mukmin” ini dengan sepenuh hati. Jangan biarkan ia ternoda oleh celaan, terkikis oleh kutukan, atau hancur oleh kata-kata kotor. Karena pada akhirnya, iman itu bukan hanya keyakinan di hati, tetapi juga pancaran kebaikan melalui lisan dan perbuatan kita.
Wallaahu a’lam bish showwaab.





