Resolusi Abadi: Renang, Pindah, atau Pasrah?
Kalau ada yang lebih konsisten datang setiap tahun baru selain kembang api dan resolusi yang menguap sebelum Januari berakhir, itu adalah banjir. Sementara orang sibuk membuat rencana “olahraga rutin” atau “kurangi kopi”, alam punya agenda sendiri: “genangi dulu, ya, biar seger!”
Saya ingat awal Januari 2018. Nafas hidup kita baru dua hari di bulan itu, dan selama dua hari itu banyak yang habiskan untuk mendatangi tempat wisata di pelosok Indonesia. Sementara di Bandung, kota kelahiran saya, tahun baru cuma dihiasi hujan sore yang dilanjutkan gerimis malam. Biasa saja. Tak ada yang istimewa dari pergantian tahun—setelah melewati dinamika 2018, kita hanya masuk ke genap dengan basah-basahan.
Memang, yang hampir pasti setiap pergantian tahun adalah rintik dan derasnya hujan. Maklum, Indonesia terbelah dua oleh khatulistiwa: musim kemarau dan hujan. Januari selalu jatuh di musim basah, jadi wajar kalau negeri ini—khususnya Jakarta—langganan banjir. Seperti irama hidup yang sudah diatur: kita suka dulu merayakan, lalu berduka menghadapi genangan.
Persiapan menyambutnya pun jadi ritual tersendiri. Beberapa hari sebelum tahun baru, langit mulai latihan menangis. Awan berkumpul rapat, seolah rapat koordinasi. Lalu, tanggal 31, kita semua jadi ahli meteorologi dadakan. Medsos dipenuhi pantauan ketinggian air: “Depan mall sudah kayak kolam, nih!” disertai foto yang mirip destinasi wisata air, kalau saja yang mengapung bukan motor dan styrofoam.
Malamnya, siap-siap angkat furnitur, selamatkan kucing panik, dan pastikan lilin dan power bank penuh. Seolah tahun baru bukan soal pindah kalender, tapi bertahan hidup versi lokal.
Tepat tengah malam, sementara orang lain teriak “Happy New Year!”, di sini mungkin ada yang berteriak, “Waduh, airnya masuk lagi!” Kembang api warna-warni meluncur ke atas, air coklat merayap ke bawah. Dua pertunjukan sekaligus. Dan kita sudah bisa menebak keduanya akan datang. Konsisten, memang.
Keesokan harinya, foto yang dibagikan bukan wajah pucat sisa pesta, tapi diri tersenyum sambil angkat kaki di atas kursi terendam. Keterangannya: “Tahun baru, kolam pribadi gratis!” Ada kebanggaan tersendiri—semacam ketangguhan ala warga yang sudah kompromi dengan nasib.
Tapi di balik guyonan, ada pertanyaan yang menggumpal: Sudah 80 tahun merdeka, kok belum juga merdeka dari banjir? Danau buatan dibangun, sodetan sungai dikerjakan dengan anggaran besar, berbagai upaya dicoba. Tapi setiap tahun, kita masih punya PR yang tak kunjung selesai.
Jujur, kadang saya iri lihat tata kota di Eropa. Sungai di Venesia ramai dengan lalu lalang perahu, Amsterdam bangga disebut kota air. Mereka sudah “selesai” urusan dengan air. Sementara di sini, sampah masih jadi kambing hitam, limbah rumah tangga dan industri masih mengalir ke sungai. Air yang seharusnya jadi sumber kehidupan—diturunkan Tuhan melalui hujan, mengalir lewat lembah dan bukit—kita kotori dengan sempurna.
Air adalah sumber kehidupan, tapi kita memperlakukannya seperti musuh yang diundang setiap tahun. Mungkin itu sebabnya banjir jadi tamu paling setia—lebih setia daripada pacar atau resolusi tahun baru. Ia datang tanpa undangan, mengingatkan bahwa yang kita perlukan bukan hanya harapan di kembang api, tapi aksi nyata untuk berdamai dengan air.
Jadi, selamat tahun baru! Semoga tahun ini, resolusi kita untuk punya saluran air yang lancar—dan kesadaran yang tak lagi membuang sampah sembarangan—bukan sekadar wacana. Sementara itu, siapkan sandal jepit dan senter. Tamu setia kita sudah di depan pintu.
Dan mungkin, suatu saat nanti, kita benar-benar merdeka dari banjir—bukan sekadar pandai berenang atau tersenyum di atas sofa yang terendam.





