Bukan Cuma Anyaman! Tasikmalaya Bidik Gelar Kota Kreatif Dunia, Siap Saingi Milan?

ruangkosong.net, Tasikmalaya — Di sebuah bengkel sederhana di Rajapolah, bunyi gesekan bambu yang ditatah masih bersahutan. Tangan-tangan lincah pengrajin merajut bilah demi bilah menjadi tudung saji, bakul, atau anyaman dinding yang selama ini menjadi identitas “Kota Santri”. Namun, di balik dinding bengkel itu, sebuah visi yang jauh lebih ambisius sedang dirangkai—visi yang tidak hanya hendak melestarikan tradisi, tetapi membawanya melesat ke panggung global. Tasikmalaya kini menyiapkan langkah berani: bukan sekadar menjadi sentra kerajinan, tetapi mengukir diri sebagai “Kota Industri Kreatif Bambu Berkelanjutan” yang diakui UNESCO, dengan mimpi suatu hari mampu bersanding, bahkan bersaing, dengan pusat desain dunia seperti Milan.

Targetnya konkret: menyusul kota-kota seperti Pekalongan (kota kreatif kategori crafts and folk art) dan Bandung (kategori desain) yang telah lebih dulu menjadi anggota Jaringan Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN). Gelar ini bukan sekadar plakat penghargaan, melainkan pintu gerbang menuju ekonomi kreatif yang berkelanjutan, peningkatan nilai ekspor, dan kebanggaan kolektif yang baru.

Lantas, bagaimana sebuah kota yang lekat dengan kerajinan tangan tradisional bercita-cita setara dengan ibukota desain dunia? Kuncinya ada pada sebuah strategi yang disebut “Hexa Helix”.

Dari “Kampung Anyaman” ke Panggung Global: Strategi Hexa Helix

Prof. Dr. Husen Hendriyana, S.Sn., M.Ds., Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISBI Bandung, yang menjadi salah satu arsitek pemikiran strategi ini, menegaskan bahwa perjalanan menuju pengakuan global tidak bisa ditapaki dengan cara lama. Dibutuhkan kolaborasi radikal dari enam pilar: Pemerintah, Akademisi, Bisnis, Komunitas, Media, dan Pengunjung.

“Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal anyaman tradisional. Filosofi kita sekarang: ‘No design, no business. No transaction, no added value’. Tanpa desain yang kuat, produk tidak akan kompetitif di pasar modern. Tanpa transaksi yang bernilai, tidak ada peningkatan kesejahteraan yang nyata,” tegas Prof. Husen.

Transformasi ini dimulai dari akar. Di fase awal roadmap lima tahun yang disusun, fokusnya adalah membangun fondasi yang kokoh: penanaman 10.000 bibit bambu berkelanjutan dan pembentukan koperasi petani untuk menjamin pasokan bahan baku berkualitas. Ini adalah langkah krusial untuk mengubah persepsi bambu dari sekadar material kerajinan menjadi material industri berkelanjutan (sustainable industrial material) yang bernilai tinggi.

Inovasi di Bengkel: Ketika Bambu Bertemu Teknologi

Pengrajin bambu di Tasikmalaya

Langkah berikutnya adalah revolusi di tingkat produksi. Konsep “anyaman” akan didorong melampaui batas-batas tradisionalnya. Rencananya, akan didirikan Studio Bambu Komposit dan Bengkel Desain Digital. Di sini, bambu akan diolah bukan hanya dengan tangan, tetapi dengan teknologi. Material ini akan diuji, dikombinasikan, dan direkayasa menjadi elemen furnitur modern, material interior arsitektur, atau produk lifestyle yang memenuhi standar internasional.

“Bayangkan sebuah café di Milan menggunakan panel dinding atau furniture custom yang material utamanya berasal dari bambu Tasikmalaya, dengan desain yang kurasi dan diproduksi secara digital di sini. Itulah nilai tambah yang kita kejar,” jelas Prof. Husen lebih lanjut.

Digitalisasi juga menyentuh rantai pasok. Platform e-Bursa Bambu akan dikembangkan, menghubungkan petani, pengrajin, dan desainer dengan pasar global secara transparan. Sentra produksi seperti Rajapolah dan Cikiray tidak lagi hanya menjadi tempat produksi, tetapi destinasi wisata kreatif (creative tourism), di mana pengunjung dapat menyaksikan proses kreasi, berinteraksi dengan pengrajin, dan merasakan langsung cerita di balik setiap produk.

Tantangan dan Masa Depan: Mewariskan Lebih dari Sekadar Ketrampilan

Jalan menuju Milano tentu tidak mulus. Tantangan klasik industri kerajinan, seperti akses modal terbatas, pola pikir usaha yang masih tradisional, dan gaps teknologi, harus diatasi dengan program pendampingan yang masif dari akademisi dan dunia bisnis. Kemitraan dengan desainer nasional dan internasional menjadi kunci untuk membuka wawasan dan pasar baru.

Namun, dampak yang diharapkan melampaui angka ekspor. Target peningkatan nilai ekspor sebesar 30% dan partisipasi di pameran bergengsi seperti Salone del Mobile di Milan adalah target kuantitatif. Tujuan yang lebih dalam adalah menciptakan ekosistem ekonomi sirkular di mana generasi muda melihat peluang, bukan keterpaksaan, dalam meneruskan warisan leluhur.

“Ini bukan sekadar branding untuk mendapat gelar UNESCO,” pungkas Prof. Husen. “Ini adalah upaya membangun ekosistem di mana pengrajin muda bangga meneruskan warisan budaya, tetapi dengan cara mereka sendiri: dengan standar desain global, teknologi mutakhir, dan kesejahteraan ekonomi yang menjanjikan.“

Jika semua rencana ini berjalan sinergis, tudung saji dan bakul anyaman dari Tasikmalaya mungkin suatu hari nanti tidak hanya menjadi buah tangan khas wisatawan domestik, tetapi menjadi objek diskusi di galeri desain internasional, membawa nama Kota Santri bukan sebagai pengikut tren, tetapi sebagai pembuat tren dari bambu berkelanjutan.


ruangkosong
ruangkosong
Articles: 158

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *